Lunturnya Budaya Indonesia

Oleh Rofiqi Mathuri – Sekolah Indonesia Makkah (juara tiga kategori pelajar pada lomba menulis esai yang diselenggarakan oleh PPMI Arab Saudi)

Indonesia merupakan negara kepulauan. Kalau berbicara tentang budaya, Indonesia memiliki berbagai macam suku, ras, adat, serta alam lainnya. Indonesia juga kaya akan budaya. Namun seiring dengan perkembangan zaman era globalisasi ini, kebudayaan Indonesia mulai luntur.

Globalisasi merupakan proses masuknya ke ruang lingkup dunia atau proses mendunia di mana setiap orang tidak mengenal atau terikat oleh batas-batas wilayah negara, artinya setiap individu dapat berhubungan dan bertukar informasi kapanpun dan di manapun melalui media cetak maupun elektronik. Di sisi lain globalisasi dapat diartikan sebagai akal licik atau negara adikuasa yang ingin mengendalikan semuanya dari budaya sampai ekonomi setiap negara. (Wikipedia, Globalisasi, 2020)

Suatu kenyataan yang sudah dinikmati  oleh manusia pada era saat ini adalah kemakmuran, kemudahan, dan kenyamanan. Namun tidak semua yang serba mudah dan nyaman menimbulkan positif melainkan dapat juga menimbulkan negatif yang akan mengancam dan sangat sulit untuk dihindari. Globalisasi bisa menyebabkan segala aspek di kehidupan ini terpengaruhi, misalnya sistem ekonomi, budaya, sosial,  dan lingkungan manusia. 

Eratnya suatu hubungan tersebut memungkinkan untuk saling mendukung ke arah positif atau justru ke arah negatif dari globalisasi. Positifnya, perkembangan ekonomi akan menjadi lebih cepat apabila didukung oleh faktor kemajuan teknologi. Teknologi merupakan langkah lanjut dari peranan, modal, dan jasa untuk perkembangan ekonomi. Semakin canggih teknologi berarti makin tinggi efisiensi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika dari sisi negatifnya, pengaruhnya terhadap bidang sosial dan kebudayaan, seperti rendahnya apresiasi masyarakat  terhadap nilai-nilai di bidang tersebut (terutama para generasi muda).

Pada awalnya, proses globalisasi ini ditandai dengan kemajuan-kemajuan teknologi yang semakin canggih terutama di bidang informasi dan komunikasi. Contohnya di bidang informasi, semua orang dapat mengakses berita darimanapun secara cepat dan instan. Hal ini dapat menimbulkan dampak seperti kurangnya interaksi antar masyarakat secara luas yang pada akhirnya mempengaruhi satu sama lain. Globalisasi juga dapat berpengaruh terhadap pemuda-pemuda dalam kehidupan sehari-hari. Pada perkembangannya globalisasi ini dapat menimbulkan berbagai masalah dalam bidang sosial dan juga kebudayaan. 

Budaya adalah kata yang berasal dari buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (akal). Diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal dan budi pekerti manusia. Sedangkan Kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Seperti, bagaimana kita mengenali orang timur dengan keramahannya yang khas dan mengenali karakter orang barat yang tegas. (Wikipedia, Budaya, 2020)

Adapun masalah dari bidang sosial dan kebudayaan misalnya hilangnya budaya asli suatu daerah atau suatu negara, hilangnya sifat kekeluargaan, dan gotong royong, hilangnya nilai-nilai budaya, kehilangan kepercayaan diri, dan banyak pemuda-pemuda yang terpengaruh dalam kehidupan sehari-harinya yang mengikuti gaya berpakaian, dan gaya hidup kebarat-baratan. Salah satu berhasilnya penyebaran budaya barat adalah masuknya budaya barat dan diterima “baik” oleh masyarakat. Hal inilah yang membuat masyarakat dapat dengan mudahnya terpengaruh dengan kebudayaan barat sehingga masyarakat lupa dengan kebudayaannya sendiri.

Budaya barat yang telah masuk ke Indonesia ternyata menimbulkan multi efek. Perkembangan teknologi dan masuknya budaya barat, tanpa disadari secara perlahan telah menghancurkan kebudayaan bangsa Indonesia. Rendahnya pengetahuan menyebabkan akulturasi kebudayaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur yang terkandung didalam kebudayaan bangsa Indonesia. Masuknya kebudayaan barat tanpa disaring oleh masyarakat dan diterima begitu saja atau secara mentah. Apa adanya, mengakibatkan terjadinya degredasi atau penyimpangan yang sangat luar biasa terhadap kebudayaan asli. Ciri-ciri terjadinya globalisasi terhadap kebudayaan, yaitu: 1). Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional. 2). Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film, dan lain-lain. 3). Persaingan bebas dalam bidang ekonomi. (Herdiansyah, 2019)

Masalah dari bidang sosial budaya yang sering terjadi adalah:

Pertama, Tingkah laku pemuda, di zaman modern seperti ini permasalahan budaya adalah permasalahan yang memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah banyaknya budaya asing yang masuk dan menjadi pujaan baru bagi generasi muda Indonesia. 

Contoh masalah sosial budaya yang menjangkiti pemuda adalah pacaran. Bagi masyarakat luar negeri berpacaran di tempat umum adalah hal yang normal. Namun berbeda terjadi di Indonesia yang gaya berpacarannya biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dan karena masalah sosial ini, kini banyak kenakalan-kenakalan remaja yang lainnya.

Kedua, Korupsi, kenapa korupsi masih ada di Indonesia dan kenapa tidak bisa diberantas? jawabannya adalah karena korupsi sudah menjadi budaya. Korupsi bukanlah tentang satu atau dua orang yang terlibat, melainkan banyak orang yang terlibat didalamnya.

Korupsi sudah menjadi penyakit sosial yang secara terus-menerus menjangkiti masyarakat dan sulit diberantas. Karena penggunanya hanya untuk memuaskan nafsu pribadi saja.

Ketiga, Rokok, rokok sudah menjadi fenomena sosial yang terjadi di masyarakat karena kini sebagian besar lapisan masyarakat merupakan seorang perokok. Baik perokok aktif maupun pasif.

Salah satu lapisan masyarakat yang paling menjadi sorotan adalah ketika anak di bawah umur atau remaja yang sudah menjadi perokok aktif. Penyebab dari semua ini adalah kebebasan bergaul atau pergaulan yang semakin bebas dan tidak terbatas.

Keempat, Narkoba, sama halnya dengan rokok, narkoba sudah menjadi tantangan tersendiri untuk dicicipi oleh generasi muda karena sudah tidak adanya batasan dalam pergaulan. Salah satu alasan mengapa mereka ingin mencobanya adalah karena ada rasa bosan sehingga dengan rokok dan narkoba mereka berpikir bahwa efeknya menjadi nikmat.

Narkoba sudah menjadi salah satu contoh masalah sosial budaya karena keberadaan atau peredaran rokok dan narkoba ini saling berkaitan.

Kelima, Kemiskinan, sulitnya mencari pekerjaan di era sekarang ini karena dengan sedikitnya lapangan pekerjaan menjadikan kemiskinan sebagai contoh masalah sosial budaya yang lain. Contoh lebih dekatnya di Indonesia, secara umum kemiskinan merupakan permasalahan klasik yang tidak kunjung ditemukan solusinya. Hal ini bisa terjadi karena kemiskinan adalah permasalahan yang cukup kompleks dan membutuhkan perencanaan pemecahan dengan cara yang benar-benar matang. (Renata, 2018)

Terkait masalah yang di atas, pemerintah akhirnya menemukan solusi, yaitu: 

1.  Pemberian Kartu Askes (Asuransi Kesehatan), kepada keluarga miskin. Dengan kartu Askes, dapat meringankan keluarga miskin dan dapat berobat di rumah sakit yang ditunjuk.

2. Pemberian beras untuk masyarakt miskin (Raskin). Melalui program ini, bantuan yang berupa pangan dari pemerintah berupa beras dengan harga yang sangat murah.

3. Pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS), kepada siswa-siswi sekolah mulai dari sekolah dasar sampai tingkat SLTA. Tujuannya untuk meringankan biaya pendidikan.  

Itu semua solusi dari pemerintah yang sudah ada, karena sudah menjadi tugas mereka yang harus dijalankan demi mensejahterakan rakyatnya. Nah, sekarang solusi dari penulis ini mungkin tidak sehebat pemerintah tetapi setidaknya bisa mencegah atau menghapus masalah-masalah tersebut.

Yang pertama, menyaring kembali setiap budaya asing yang masuk ke Indonesia. Lalu, mengadaptasi dengan budaya setempat secara perlahan kemudian dilakukan secara bersama.

Kedua, harus bisa mempromosikan budaya asli Indonesia ke kancah Internasional untuk menambahkan rasa kepemilikan atau cinta budaya kita yaitu, Indonesia.

Ketiga, utamakan menggunakan produk-produk Indonesia dan menyukainya.

Keempat, nilai religius, spritualis, dan memupuk rasa kebhinekaan harus dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia agar budayanya tidak pupus atau hilang.

Itu semua masalah-masalah yang ada di Indonesia sekarang yang masih belum pudar atau hilang. Masalah sosial yang ada di lingkungan tersebut harus selalu kita hadapi dan kita juga harus peka atas apa yang terjadi. Dengan jelas kita telah mengetahui bahwa ternyata masih banyak masalah-masalah di negara kita yang pelakunya rata-rata orang dewasa dan anak muda. Bagaimana dengan anak-anak yang ada di luar negeri atau para pelajar yang menetap di luar Indonesia? Apakah mereka menghadapi masalah yang sama? Bagaimana mereka mengatasinya? Dengan cara bagaimana mereka bisa menghilangkan budaya-budaya luar yang dapat mempengaruhi terhadap lingkungan mereka?

Masalah sosial itu pasti ada di manapun kita berada. Kita harus mampu dan  mengetahui keberadaan masalah tersebut apalagi sebagai pemimpin yang harus peka, di tambah juga harus bisa koordinir anggota-anggotanya. Sebagai penulis, masalah yang baru saya hadapi itu baru di lingkungan sekolah. Jadi penulis akan memberitahu masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial budaya yang ada di lingkungan sekolah. 

Di dalam lingkungan sekolah terdapat pengelompokan siswa yang mempunyai sifat yang berbeda-beda. Dan disitulah mereka menyesuaikan sifat mereka tersebut. Masalah yang sering terjadi di lingkungan sekolah terutama di dalam kelas adalah hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong, hilangnya rasa kepercayaan diri, dan lunturnya budaya sopan santun di kalangan masyarakat terutama remaja seperti banyak adik-adik kelas yang kurang sopan terhadap kakak kelas, dalam pemanggilan nama, memberikan sesuatu, atau ketika bersapa 

Hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong, ini salah satu efek dari globalisasi yang dapat meningkatkan sifat individualisme. Padahal manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan manusia membutuhkan bantuan orang lain. “Individualisme” sekaligus “egoisme” yang mendukungnya, jadi sifat kekeluargaan dan gotong royong pupus atau terkikis secara perlahan. Solusi dari penulis adalah kita sebagai siswa yang sadar akan itu harus bergerak untuk mengatasi hal tersebut dengan memulai duluan untuk berinteraksi dengan mereka, menghilangkan sifat “cuek” mereka, ajak mereka berorganisasi, mengajak untuk mengikuti seminar-seminar, dan saling bertukar pikiran.

Hilangnya rasa kepercayaan diri, pada era globalisasi ini banyak orang yang rasa kepercayaan dirinya menurun atau bahkan hilang dikarenakan akibat kesehatan mentalnya yang tidak baik. Sering merasakan depresi dan kecemasan karena sering membanding-bandingkan dirinya dengan orang-orang barat yang dia lihat dan kecanduan menggunakan zat-zat seperti narkoba atau alkohol untuk meringankan perasaan negatif yang mereka miliki. Solusinya adalah membangun harga diri. Kunci untuk membangun kepercayaan diri datang dari diri kita sendiri. Harus bisa menantang dan menyesuaikan pikiran negatif itu menjadi pemikiran yang lebih positif. Belajar menghargai dan merawat pikiran dan tubuh melalui gaya hidup yang sehat juga penting.

Lunturnya sopan santun di kalangan remaja, di era globalisasi ini banyak remaja yang sopan santunnya kurang seperti tidak menghormati orang lain dalam berkata ataupun bertindak. Masalah ini justru kebalikan dari negara kita aslinya. Negara kita terkenal dengan negara yang menjunjungi tinggi sopan santun, dan budaya sopan santun itu sangatlah penting. Sopan santun wajib kita lakukan di manapun, kapanpun, dengan siapapun, dan dalam kondisi apapun serta tanamkan bahwa attitude itu nomor satu. Solusi dari penulis, jika kondisi sudah seperti ini, orang tua dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut. Jika membicarakan masalah etika, proses ini butuh waktu panjang dan lama karena harus konsisten. Hal tersebut adalah langkah awal untuk membentuk generasi selanjutnya. Kesadaran diri terhadap tata krama juga perlu. (Lesmana, 2016)

Solusi-solusi di atas tidak sepenuhnya bisa berhasil untuk mengatasi berbagai masalah-masalah budaya di era globalisasi, bahkan terdapat kekurangan dan kelebihan yang bisa kita ambil : 

Solusi pertama mengenai hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong.
Kelemahannya, tanpa bantuan teman kita tidak akan bisa karena butuh kesabaran yang kuat dan pasti prosesnya akan lama demi melawan ego-ego mereka yang sudah terbiasa pada diri mereka. Keunggulannya, ketika solusi itu berhasil kita bisa menambah banyak teman dan mereka menjadi teman dekat kita bahkan bisa saja menjadi sahabat mereka karena telah menolong mereka dari “kegelapan” yang telah tertanam pada dalam diri mereka.

Solusi kedua mengenai hilangnya rasa kepercayaan diri.
Kelemahannya, membangun harga diri perlu butuh bantuan dan bimbingan pastinya. Kita tidak bisa melawan harga diri itu dengan diri kita sendiri. Jika memang kita bisa, itu spesial. Keunggulannya, bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya dan lebih percaya lagi dalam kondisi apapun tetapi jangan sampai terlalu percaya diri nanti memalukan.

Adapun solusi ketika mengenai lunturnya sopan santun di kalangan remaja.
Kelemahannya, orang tua yang sibuk sekali pasti tidak mempunyai waktu banyak bersama anak-anaknya. Dan juga anak butuh yang namanya “pemantauan” karena tanpa pemantauan percuma. Keunggulannya, anak lebih sopan lagi, lebih patuh dan tunduk kepada yang lebih tua, serta tahu mana yang lebih tua dari kita dan mana yang lebih muda dari kita dan juga tahu mana tempat yang baik dan buruk.

Itulah beberapa permasalahan sosial budaya yang sering terjadi di masyarakat Indonesia. Satu permasalahan sangat berpotensi untuk menimbulkan masalah-masalah yang lainnya. Perubahan suatu kebiasaan yang bertentangan dengan nilai dan norma dalam masyarakat juga dapat berpotensi akan menimbulkan suatu masalah baru dari sosial atau konflik sosial. Karena itu, sebagai masyarakat Indonesia alangkah baiknya jika kita dapat memilki mana yang baik dan mana yang buruk bagi diri kita sendiri dan juga bagi lingkungan masyarakat kita.

Pengaruhnya telah meluas tanpa pandang bulu, siapa saja bisa terkena dan merasakannya. Namun adanya masalah tersebut kita tidak boleh takut dengan perubahan-perubahan yang dibawa oleh globalisasi ini, tapi jangan sampai berani-berani juga dalam menyerap semuanya tanpa memfilter yang baik dan juga yang buruk.

Kita sebagai bangsa Indonesia harus selalu berintropeksi diri agar bisa memperbaiki keadaan bangsa kita ini menjadi lebih baik dan dapat mempertahankan budaya asli lokal kita. Indonesia masih perlu perbaikan di bidang sosial dan budaya supaya bisa menjadi negara yang besar. Penyebab-penyebab dari lunturnya budaya Indonesia adalah kurangnya kesadaran masyarakat terhadap budaya lokal, minimnya pengetahuan kita dan komunikasi tentang budaya, dan kurangnya menyerap informasi-informasi mengenai globalisasi ini. Apalagi dampaknya terhadap remaja kehilangan jati diri sebagai rakyat Indonesia. Sebagai siswa luar negeri wajib memegang teguh terhadap budaya lokal Indonesia agar tidak pupus begitu saja serta mempromosikan budaya-budaya Indonesia. (MAM)



Sosial, Budaya, dan Olahraga PPMI Arab Saudi
Kolaborasi – Dedikasi – Inspirasi  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *