Memperkuat Tradisi Gotong Royong sebagai Wajah Kebudayaan Bangsa Indonesia

Oleh Arya Pradipta – King Fahd University for Petroleum and Minerals (juara dua kategori mahasiswa pada lomba menulis esai yang diselenggarakan oleh PPMI Arab Saudi)

Beberapa bulan terakhir, sejumlah masalah dalam negeri menjadi topik yang selalu ramai dan hangat dibicarakan di tengah publik. Belum usai pandemi Covid-19 yang berdampak pada tingginya angka kematian serta turunnya kinerja perekonomian dalam negeri, masyarakat sudah dihadapkan oleh persoalan berat lainnya. Sejumlah bencana alam mulai mengintai dan melanda berbagai daerah. Bahkan, di saat negara-negara lain mengumumkan keberhasilan mereka menekan laju penularan corona, angka kasus infeksi di Indonesia semakin bertambah tiap harinya. 

Sayangnya, pemerintah dan masyarakat malah semakin terbelah dan ribut sendiri meskipun pandemi terlihat belum akan berakhir dan ancaman lainnya sudah berada di depan mata. Konstentasi politik yang belum usai diduga menjadi penyebabnya. Wajar jika rasa pesismisme terhadap masa depan negeri ini muncul. Namun, rasa optimisme akan senantiasa ada. Sebagai negara yang kaya akan nilai-nilai budaya yang luhur, sejujurnya bangsa Indonesia memiliki modal lebih dari cukup untuk keluar dari masa-masa sulit ini.

Peran Kebudayaan di Masa Pandemi

Dalam sebuah diskusi publik yang diselenggarakan secara daring oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT), salah seorang panelis, Chappell Lawson, memaparkan bagaimana unsur-unsur kebudayaan turut mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam merespon pandemi Covid-19 (MIT News, 2020). Di kesempatan yang berbeda, Alan Chong, akademisi di Rajaratnam School of International Studies (RSIS), bahkan memaparkan bahwa salah satu elemen kunci keberhasilan sebagian negara-negara Asia dalam menangani krisis Covid-19 adalah faktor budaya (Voanews, 2020). 

Sederhananya, budaya yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat memiliki peran penting dalam penanganan penyebaran wabah Covid-19 di masing-masing negara. Di Asia Timur, nilai-nilai konfuanisme yang telah menyebar dan mengakar kuat ke berbagai lapisan masyarakat ditengarai menjadi salah satu faktor keberhasilan pemerintah menekan laju penularan Covid-19. Sikap untuk mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi merupakan salah satu nilai dari konfuanisme sendiri yang terbukti mampu membentuk karakter masyarakat di kehidupan sehari-hari.

Hal ini menjelaskan mengapa para demonstran Hongkong mau sejenak menekan ego mereka untuk menghentikan aksi massa yang telah berlangsung selama beberapa bulan saat terdengar kabar bahwa Covid-19 mulai tersebar. Atau masyarakat Taiwan yang konsisten menggunakan masker di area publik meskipun tidak menunjukkan gejala terjangkit virus. Akibatnya, pemerintah tidak perlu berulang kali menekankan rakyatnya untuk tetap memakai masker, menjaga jarak serta tetap berada di rumah jika tidak ada keperluan yang benar-benar mendesak.

Budaya tidak bisa diasosiasikan secara sempit sebatas pada tradisi atau karya seni yang diwariskan dari generasi ke generasi semata. Perilaku hidup masyarakat modern yang dibentuk oleh sistem juga termasuk bagian dari bentuk budaya. Penduduk Jepang dan Korea Selatan yang terbiasa memanfaatkan teknologi sebagai solusi keseharian mampu membuat mereka terbuka terhadap inovasi-inovasi baru dari pemerintah untuk melawan penyebaran virus di negaranya.

Di beberapa negara Asia Tenggara lainnya, ancaman penyebaran virus yang bersifat eksponensial ini dihadapi masyarakat dengan memperkuat kohesi sosial di antara mereka. Di Indonesia sendiri, salah satu cara yang dapat dipakai adalah dengan merawat dan mengoptimalisasikan tradisi gotong royong.

Nilai-Nilai Luhur di dalam Gotong Royong 

Budaya sendiri dapat didefinisikan sebagai bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun menurun dan mencerminkan jati diri suatu bangsa. Ia merupakan produk masyarakat yang terwujudkan dalam bentuk nilai maupun benda. Sayangnya, selama ini, perbincangan soal kebudayaan Indonesia cenderung didominasi oleh warisan budaya benda. 

Kebudayaan seolah hanya berkutat pada lukisan, ukiran, tarian, lagu, syair maupun adat istiadat. Padahal, warisan budaya yang terwujud dalam bentuk nilai-nilai luhur, jika dijaga dan terus disuarakan dengan sungguh-sungguh, niscaya mampu merasuk ke tiap sendi kehidupan masyarakat.

Sebagai salah satu budaya dalam wujud nilai yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat, gotong royong dapat didefinisikan sebagai sikap saling membantu tanpa pamrih untuk memperkuat ketahanan ekonomi serta sosial. Secara bahasa, gotong royong berasal dari kata ‘Ngotong’ yang diartikan sebagai sekumpulan individu yang mengerjakan suatu urusan serta ‘Royong’ yang berarti bersama-sama. Kedua kata tersebut berasal dari bahasa Jawa, meskipun dalam khazanah kesusastraan Sunda, ‘Ngotong’ memiliki padanan yang sama dengan ‘Ngagotong’ dalan Bahasa Sunda (Slikkerveer, 2019).

Keunikan gotong royong tidak hanya ditemui di Indonesia saja. Dalam tulisannya, Slikkerveer (2019) memaparkan bahwa gotong royong merupakan bagian dari sistem komunal yang jamak ditemui di berbagai belahan dunia dengan nama atau istilah yang berbeda di tiap-tiap daerah. Meskipun demikian, subtansinya tetap sama: kerja sama antar elemen masyarakat untuk melakukan suatu pekerjaan demi mencapai suatu tujuan.

Dalam konteks agama, meskipun gotong royong merupakan budaya yang sudah ada terlebih dahulu sebelum kedatangan Islam ke nusantara, namun nilai-nilai yang terdapat di dalamnya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Nilai-nilai dalam budaya gotong royong, seperti kerja sama dan saling tolong menolong, bahkan selaras dengan surat Al Maidah ayat 2 yang berbunyi:

”Dan tolong-menolong lah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwa lah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat.”

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim juga disebutkan, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Barang siapa menolong saudaranya, maka Allah akan menolongnya.

Nilai-nilai positif lainnya juga termaktub di dalam tradisi gotong royong, seperti kebersamaan, kerelaan, persatuan serta wadah silaturahim. Pekerjaan yang dilakukan bersama-sama tentunya berperan sebagai sarana bersosialisasi yang melahirkan rasa kebersamaan serta persatuan di tengah masyarakat. Ego personal juga rela disingkirkan demi kepentingan yang lebih besar. Kesemua nilai yang didapat tersebut niscaya mampu menyelesaikan permasalahan bangsa Indonesia akhir-akhir ini yang mudah terpolarisasi.

Jika dicermati lebih jauh, dalam tradisi masyarakat Muslim sendiri, budaya gotong royong bukanlah hal yang sama sekali baru. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalam beserta para sahabat bahkan mencotohkan perilaku ini sedikitnya dalam dua peristiwa: pembangunan masjid Nabawi sebagai pusat aktifitas kaum Muslim serta penggalian parit sebagai benteng pertahanan saat perang Khandaq.

Masih terawatnya kultur gotong royong hingga hari ini juga mematahkan argumen yang mengklaim bahwa datangnya Islam memiliki dampak buruk terhadap kelestarian budaya asli nusantara. Sebaliknya, agama ini justru datang untuk membersihkan produk kebudayaan dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan. Dengan demikian, seseorang yang melakukan aktifitas kebudayaan meyakini bahwa yang dilakukannya adalah bagian dari ibadah serta tidak bertentangan dengan kaidah agama. Sebuah sikap yang oleh Kuntowijoyo disebut sebagai bentuk transendensi budaya (Qodir, 2015).

Transformasi di Era Digital

Kemajuan teknologi selalu dituding menjadi penyebab tercabutnya nilai-nilai positif dari kehidupan bermasyarakat. Generasi muda yang diharapkan menjadi penerus tongkat estafet perjalanan sebuah bangsa tidak lepas dari masalah ini. Gaya hidup yang sebelumnya menjunjung tinggi kebersamaan dan kesederhanaan berubah menjadi individualistik serta materialistik.

Namun, tidak selamanya perkembangan teknologi berdampak buruk. Di tangan generasi muda pula, kultur gotong royong mampu mereka kembangkan dan terapkan ke ranah digital. Meskipun bentuknya berbeda, namun nilai-nilai yang terkandung tetap sama. Jika sebelumnya entitas sosial yang terlibat hanya bersifat kedaerahan saja, kini setiap individu dari seluruh pelosok negeri dapat berpatisipasi secara aktif melalui platform yang dibangun.

Platform digital berbasis gotong royong yang berkembang pun tidak hanya sebatas pada donasi kemanusiaan semata (fundraising), tapi juga melingkupi pendanaan (peer-to-peer lending/P2P) Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Beberapa platform P2P diantaranya masuk ke berbagai sektor, seperti pertanian, real estate, maupun peternakan.

Kehadiran platform crowdfunding tersebut setidaknya diharapkan mampu membantu meningkatkan perekonomian nasional. Terlebih lagi fakta jika sebagian besar Produk Domestik Bruto (PDB) disumbang oleh sektor UMKM. Selain itu, masyarakat juga semakin dimudahkan dalam melakukan penggalangan dana secara online.

Tantangan di Masa Pandemi

Sebagai bangsa majemuk yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal, Indonesia sejatinya memiliki modal yang lebih dari cukup untuk keluar dari masa-masa sulit. Sekadar pengingat, bangsa ini telah teruji dan berpengalaman menghadapi banyak krisis, baik krisis yang diakibatkan oleh bencana alam, gejolak sosial maupun ekonomi. Hal inilah yang membuat kesadaran kolektif diantara mereka untuk saling membantu terbangun dengan baik. Bahkan Indonesia diklasifikasikan sebagai negara dengan tinggi volunterisme tertinggi di dunia (CAF, 2018).

Selama masa pandemi sendiri, tidak terhitung banyaknya berita yang mengabarkan aktifitas gotong royong di tengah masyarakat dalam mengatasi pandemi Covid-19. Diantaranya adalah penggalangan dana yang diiniasi oleh masyarakat secara swadaya untuk menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kesehatan yang berjuang di garis depan. Selain tenaga kesehatan, mereka yang bekerja di sektor informal dan terkena imbas ekonomi juga tak luput mendapatkan perhatian melalui gerakan sosial yang diiniasi oleh masyarakat. Belum lagi banyaknya warga yang mendaftarkan diri sebagai relawan Covid-19. 

Budaya tolong menolong diantara masyarakat tersebut setidaknya mampu mengurangi beban negara. Sebab, sebagian besar permasalahan dapat dilesaikan secara mandiri tanpa harus terpaku menunggu bantuan dari pemerintah.

Musibah yang tidak kunjung usai selayaknya menjadi momen untuk merekatkan seluruh elemen bangsa Indonesia dan meneguhkan kembali semangat gotong royong. Kerja-kerja peradaban masih jauh dari kata usai. Indonesia masih belum benar-benar menjadi negeri yang termaktub dalam Al-Qura’n: Baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur. Sebuah negeri yang mencakup seluruh kebaikan perilaku penduduknya sehingga mendatangkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala.

Insya Allah mimpi-mimpi itu tidak akan lama lagi terwujud. (MAM)



Sosial, Budaya, dan Olahraga PPMI Arab Saudi
Kolaborasi – Dedikasi – Inspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *