Pelatihan Menulis Esai

PPMIARABSAUDI.PPI.ID, RIYADH – Dalam rangka menyemarakkan sekaligus mempersiapkan dan mematangkan bekal peserta Lomba Menulis Esai dengan tema “Budaya Sebagai Modal Kemajuan Indonesia”, maka PPMI Arab Saudi menyelenggarakan Pelatihan Menulis Esai yang dipandu oleh coach Muh. Ramli, founder Komunitas Muslim Inspiratif. Acara ini merupakan hasil kolaborasi dari Divisi Sosial, Budaya, dan Olahraga dengan Divisi Pelatihan dan Pengembangan SDM PPMI Arab Saudi. Dan berikut materinya.

A. Strong Why
B. Menemukan Ide Tulisan
C. Dosa-Dosa Penulis Pemula
D. Kerangka Tulisan
E. Mengatasi Writer Block
F. Tujuh Teknik Menulis EsaiStrong Why


A. Strong Why

1. Definisi
Strong Why adalah salah satu istilah lain dari dunia kepenulisan yang sering kita dengar atau kenal dengan kata “motivasi/alasan/niat menulis”.

Namun, pada hakikatnya sama. Nah, mengapa setiap kegiatan kepenulisan pasti yang pernah disampaikan tentang ini dan membangun ini dalam diri setiap peserta? Karena ini adalah pondasi awal. Pondasi dasar yang harus terpenuhi dan tidak boleh tidak.

Dengan kata lain yang lebih sederhana, “JANGAN PERNAH MEMULAI MENULIS SEBELUM MENEMUKAN MOTIVASI MENULIS.”

2. Pentingnya Strong Why
Niat/motivasi/alasan ini sangat penting, karena akan membentuk diri kamu akan menjadi penulis yang seperti apa nantinya. Kamu akan membentuk mindset dalam diri dan karakter dirimu tergantung seperti apa niat/motivasi/alasan menulis.

Semakin besar niat/motivasi/ kamu dalam menulis maka semakin besar semangat kamu dalam menuntaskan bukumu nantinya. Maka silahkan jawab pertanyaan berikut untuk dirimu sendiri;
1. Kenapa saya harus menulis?
2. Mengapa saya harus menulis pembahasan ini dan bukan itu?
3. Mengapa harus saya yang menuliskannya dan bukan orang lain?
4. Mengapa saya harus menuliskannya sekarang dan bukan nanti?
5. Apa manfaat yang saya dapatkan dari aktivitas menulis?

Jika kamu sudah menemukan jawaban dari semua itu, maka yakin dan percaya kamu sudah bisa menentukan niat/motivasi/alasan kamu menulis.

3. Contoh Strong Why


B. Menemukan Ide Tulisan

Ide tetap menjadi hal yang selalu ditanyakan bila membahas tentang kepenulisan. Kenapa? Karena alasan menunda menulis atau tidak menulis selalu “menemukan ide” menjadi jawaban.

Lalu, apakah sulit menemukan ide? Sama sekali Tidak! Menemukan ide sebenarnya bukan sebuah alasan atau masalah dalam kepenulisan, hanya saja terkadang kita luput atau tidak menyadarinya.

Lalu bagaimana caranya?

1. Apa yang kita lihat
Apa yang kita lihat bisa menjadi sebuah ide tulisan. Yang kita rekam melalui penglihatan bisa menjadi ide dan tema tulisan. Jika sudah, maka bisa digarap dengan penulisan kreatif. Maka silahkan perhatikan apa yang ada di sekeliling kita.

2. Apa yang kita dengar
Apa yang ditangkap melalui pendengaran kita bisa menjadi ide dalam menulis. Mungkin saat kita berdiskusi, apa yang kita dengarkan bisa menjadi ide tulisan. Ada ketika kita mendengarkan ceramah atau nasihat motivasi.

Sebagai salah satu contoh, buku saya yang judulnya “Rindu? Ke Allah Aja!” dan telah diterbitkan oleh Penerbit Quanta tahun 2019, hasil dari saya mendengarkan kata rindu yang dipopulerkan oleh Dilan. So, apa yang kita dengar silahkan ditangkap dan dijadikan ide menulis.

3. Apa yang kita butuhkan
Apa yang kita butuhkan hari ini bisa menjadi ide tulisan. Ini lebih bisa dibagi menjadi 2; Yang kita butuhkan dan para pembaca butuhkan. Maka setiap kita dituntut untuk bisa mengobservasi data kebutuhan diri dan para pembaca.

Cara mengetahui kebutuhan para pembaca, salah satunya bisa ke toko buku dan melihat buku-buku yang best seller, atau kita lihat kondisi zaman sekarang ini.

Salah satu contoh buku saya yang judulnya “Rabbi, Aku Ingin Mengenal-Mu Lebih Dekat” yang diterbitkan di Indonesia dan Malaysia, ini hasil dari observasi kebutuhan diri saya yang ingin istiqomah dalam berhijrah dan melihat kebutuhan zaman yang lagi viral tentang “hijrah” , sehingga saya menulis buku tersebut.

4. Apa yang kita kuasai
Apa yang kita kuasai bisa menjadi ide tulisan. Apa yang menjadi keterampilan dan fokus kita hari ini bisa menjadi sebuah ide tulisan.

Misalnya, jika kita seorang tenaga pendidik, bisa menjadi ide tulisan dengan menggarap naskah dengan judul “Menjadi Guru yang Berprestasi”, atau kita menguasai IT, bahasa atau lainnya.

Jadi silahkan kenali diri dan skill yang kita miliki dan jadikan sebagai ide tulisan yang bisa dibagikan.

Intinya, cara menemukan ide tulisan adalah memiliki kepekaan atau perhatian terhadap sekitar kita. Jika kita sudah belajar “peka” maka apapun bisa menjadi ide tulisan.


C. Dosa-dosa Penulis Pemula

Mengenai istilah dosa-dosa penulis ini dipopulerkan oleh penulis Isa Alamsyah yang tiada lain adalah suami dari penulis bunda Asma Nadia. 

Jadi sebelum kita lanjut, setiap kali mendapatkan kata dosa-dosa penulis, biarkan mindset kita menangkapnya sebagai kata “kesalahan”.

Mengapa perlu hal ini dibahas? Karena menulis bukan hanya perkara rampung, memiliki jumlah halaman, diterbitkan dan dibaca oleh orang lain. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana buku yang nantinya kita terbitkan bukan asal terbit saja, melainkan buku yang menginspirasi dan berkualitas karena menerapkan kaidah dalam kepenulisan.

Lalu apa saja dosa-dosa penulis pemula? Yuk, kita bahas satu persatu;

1. Penggunaan kata “di”
Penggunaan kata “di” memiliki 2 kaidah penempatan, yakni sebagai kata depan dan sebagai imbuhan.

Nah, yang sering terjadi pada penulis pemula adalah terjadi kebingungan dalam penggunaan kata “di” kapan harus dipisah dan disambung atau lebih tepatnya kapan digunakan sebagai kata depan dan imbuhan.

Lalu bagaimana cara membedakannya?

“Penulisan kata “di” yang menyatakan tempat, letak, dan waktu maka harus ditulis terpisah. Sedangkan yang menyatakan kata kerja maka harus ditulis serangkai atau disambung.”

Yuk, kita lihat contohnya;

Penggunaan kata “di” yang ditulis terpisah:
Di mana
Di sana
Di saat
Di tempat
Di antara
Di samping
Di rumah
Di kepala
Di depan
Dan lainnya.

Contoh penggunaan kata “di” yang ditulis serangkai atau disambung:
Dimakan
Dibaca
Dilihat
Diumumkan
Dan lainnya.

WARNING: Namun adakalanya kata “di” yang bisa ditulis pisah dan digabung sesuai makna.

Contoh:
Andri sedang mengaji di  langgar.
(Langgar: menyatakan tempat)
Peraturan yang dibuat oleh sekolah tidak boleh dilanggar

Contoh lain:
Faiza bersembunyi di balik pintu
Menggoreng ikan harus dibalik

2. Penggunaan partikel ‘pun’
Sejatinya partikel ‘pun’ ditulis terpisah dengan kata yang menyertainya.

Contoh:
aku pun
apa pun
sedikit pun
siapa pun
dll

Catatan:
partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung penulisannya disatukan karena dianggap padu. Di antaranya adalah:
adapun
andaipun
ataupun
bagaimanapun
biarpun
kalaupun
kendatipun
maupun
meskipun
sungguhpun
walaupun
sekalipun

3. Penggunaan tanda strip atau tanda hubung (-)
Ini juga sering terjadi pada penulis pemula. Kesalahan yang sering terjadi pada kata berulang seperti: anak-anak, pagi-pagi,  lalu-lalang, laki-laki.

Di mana letak kesalahannya? Ketika mereka menuliskan kata berulang tersebut dengan menggunakan spasi, seperti berikut:
Anak – anak, Laki – Laki, Lalu – Lalang, Pagi – Pagi.

Penulis seperti itu jelas salah dan tidak benar. Maka ini yang perlu diperhatikan juga, memang terlihat sepele tetapi menjadi salah satu titik poin kualitas dari buku.

4. Penggemukan paragraf
Kesalahan yang paling sering muncul juga adalah terjadinya penggemukan paragraf dihampir semua naskah tulisan, apakah terlalu bersemangat dalam menulis atau memang senang melakukan hal demikian. Tetapi perlu diketahui bahwa hal ini merupakan kekeliruan dalam sebuah naskah tulisan.

Alasannya karena: 
– Akan menghilangkan keindahan dan kerapian naskah.
– Membuat para pembaca bosan dengan tulisan tersebut karena terlalu panjang sehingga mereka tidak berkonsentrasi dalam membaca.

Maka untuk menghindari hal demikian, buatlah dan teruslah berlatih menggunakan metode penulisan dengan perampingan paragraf (6-7 baris kalimat dalam satu paragraf, atau paling banyak 8 baris kalimat).

5. Penggunaan kata asing
Ini juga sering terjadi dan sering kali kita temui terjadi kesalahan. Nah, untuk menghindari kesalahan pada hal ini maka perlu diketahui bahwa penulisan kata asing harus menggunakan huruf italic atau huruf miring.

Misalnya:
Aku cinta padamu itu I love you
Aku membencimu itu I hate you
Ana uhibbuka fillah
Nuzulul Qur’an
Syukron
Ukhti
Akhi

Intinya kata-kata asing yang belum terdaftar dalam PUEBI maka ditulis dengan miring.

6. Penggunaan kata ganti ku, mu, dan nya
Kata ganti ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang menyertainya.

Contoh:
kubaca
kuraih
kudengar
kulihat
milikku
hatiku
ibuku
rumahku
matamu
bukumu
miliknya
dll.

Kecuali, jika ditulis dengan kata singkatan.

Contoh:
WA-ku
SIM-ku
KTP-mu
dll.

Nya untuk mengartikan Tuhan ditulis memakai huruf kapital dengan menggunakan tanda penghubung.

Contoh:
Takdir-Nya
Kuasa-Nya

7. Penggunaan tanda elipsis (….)
Nah, tanda ini sering kali kita jumpai digunakan di beberapa narasi tulisan, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah sudah benar atau keliru. Sebelum mengetahuinya, kita harus pahami dulu apa itu elipsis.

Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan.

Misalnya:
– Penyebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
– Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah ….
– …, lain lubuk lain ikannya.

Catatan:
– Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
– Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat buah).
– Jika di tengah kalimat maka tanda elipsis hanya ada 3 titik (…)

8. Penulisan kutipan Al-Qur’an dan Hadits
Nah, ini juga kadang keliru dalam penulisan. Jika mengutip semua dalil dalam Al-Qur’an atau Hadits yang harus diperhatikan adalah;
– Harus memiliki ruang sendiri.
– Menggunakan huruf Italic atau huruf miring.
– Terjemahan Al-Qur’an dan Hadits diawali dengan tanda petik dan diakhir pula dengan tanda petik.
– Harus disertai rujukan yang jelas, misal surah dan ayat berapa jika Al-Qur’an dan riwayat hadits siapa.

Contoh;
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Contoh Hadits;
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat.” (HR. Ahmad)

Nah, ini juga berlaku metode penulisan ketika mengambil sumber dari kitab yang lain seperti, Injil, Taurat, Zabur, Weda dan lainnya.

9. Inkosistensi kata ganti
Coba perhatikan apa yang salah dalam tulisan ini :
– Saya hanya wanita biasa yang saat kau datang hatiku sedang rapuh dan kamu membawa cinta untukku.

Awal kalimat memakai kata saya, tapi mengapa berubah menjadi aku? Cobalah untuk konsisten dalam setiap cerita yang kita buat. Kalau dari awal memakai kata ganti saya, maka seterusnya sampai tulisan selesai ya kata gantinya saya tidak berubah jadi aku.

10. Minim kata
Selalu memakai kata yang sama dalam satu kalimat/paragraf. Untuk mengatasi ini, penulis harus pandai memilih diksi sinonim kata. Diksi sinonim kata bisa kita dapatkan dengan sengaja mencari padanan katanya dalam KBBI atau dengan memperbanyak membaca. Orang yang banyak membaca akan lebih kaya diksi dibanding mereka yang tidak/jarang membaca. Karena itu, membaca sebelum menulis itu PENTING, karena amunisi dari seorang penulis itu ya membaca. 

Contoh:
– Ibu pergi ke pasar, lalu pergi ke rumah sakit untuk menjenguk bibi, lalu menjemput ayah di Bandara.

Coba kita ganti menjadi:
– Ibu pergi ke pasar, lalu ke rumah sakit menjenguk bibi. Selanjutnya ibu menjemput ayah di bandara.

Atau dalam diksi hamil misalnya kita akan menemukan beberapa sinonim katanya, misal: mengandung, berbadan dua, dll.


D. Kerangka Tulisan

Satu hal yang perlu kita ketahui, bahwa menulis bukan hanya sekedar menulis, tetapi ia memiliki teknik dan aturan tersendiri. Mengapa? Karena kita menginginkan tulisan kita rampung dan berkualitas.

Pernah nggak mengalami kejadian, saat kita sudah mulai menulis lalu hingga hari ini belum rampung? Belum selesai? 

Mengapa itu terjadi? Karena kita terlewat sesuatu yang sangat penting. Apa itu? Kerangka tulisan.

Namun, sebelum membahas itu, jangan sampai terlupakan variabel pendukungnya, yakni membuat judul.

Benar! Harus terlebih dahulu membuat sebuah judul. Timbul pertanyaan, mengapa? Karena dengan adanya judul bisa memberikan jalan fokus atau konsisten pada saat kita mulai menulis. Sederhananya supaya apa yang kita tuliskan tidak keluar jalur.

Judul
Merupakan salah satu variabel yang menjadikan buku kita sampai kepada tangan pembaca. Sebab ia memiliki kekuatan untuk menarik pembaca untuk membelinya. Berikut yang perlu diperhatikan jika ingin buku atau tulisan kita diminati oleh orang banyak;
– Judul
– Cover
– Blurb
– Kualitas 

Nah, bagaimana cara membuat judul yang menarik pada pembaca?
– Buatlah judul yang unik, berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri.
– Buat judul yang memberikan pertanyaan.
– Buat judul yang bombastis. 
– Buat judul yang kontroversial.
– Buat judul yang lagi viral atau update.
– Buat judul dengan angka.

Itu beberapa hal dalam membuat judul.

Setelah judul berhasil kita buat, maka langsung eksekusi dalam bentuk kerangka tulisan.

Kerangka tulisan ini adalah kompas atau navigasi menulis kita sehingga tidak melebar pembahasan atau menulis sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan judul tulisan.

Kerangka tulisan ibarat sebuah denah bangunan. Ia harus dirampungkan sebelum penggarapan.

Ilustrasi sederhananya seperti ini; 

Saat kita ingin membangun sebuah rumah atau bangunan, maka pertama-tama tukang akan menyelesaikan denah bangunan. Setelah denah selesai, penggarapan pun dimulai. Namun yang menariknya adalah tukang bisa memulai dari mana saja. Bisa dari depan, tengah, belakang. Bisa dari ruang tamu, ruang dapur, kamar utama ataupun ruang kamar mandi. Mengapa? Karena akhir dan bentuk bangunan sudah diketahui melalui kerangka tulisan.

Begitu juga dalam tulisan kamu juga jika sudah ada Kerangka Tulisan. Kamu bisa memulai dari awal, tengah atau akhir. Karena semua sudah sangat jelas.

Seperti apa sih Kerangka Tulisan?
– Bisa dalam bentuk Mindmaping.
– Bisa dalam bentuk tabel.
– Bisa dalam bentuk narasi singkat.
– Bisa juga dalam bentuk poin-poin.

Contoh kerangka tulisan menggunakan mindmaping.

Contoh kerangka tulisan menggunakan tabel.

Desain Tulisan/Outline Narasi;
Cinta adalah anugrah dari Sang Maha Cinta, ia suci dan menyucikan. Ia bahagia dan kadang kala rindu. Ada pada setiap insan dan terajut dalam kisah berbeda. Namun satu yang pasti bahwa setiap cinta tulus dari hati dan akan selalu ada dalam setiap kisah manusia. Entah itu mencintai dan dicintai. Maka jadilah pelakon di dalamnya.

Jika engkau menjadi pecinta, maka cintailah tanpa ada syarat, seperti cinta Allah kepada setiap hamba-Nya, seperti Rasulullah kepada setiap Umatnya, seperti setiap Nabi kepada setiap pengikutnya. Juga seperti orang tua kepada buah hatinya.

Contoh Desain Tulisan menggunakan Poin-Poin;
Judul: Mencintai dan Dicintai
Poin-Poin Pembahasan;
– Apa itu cinta?
– Perlukah kita mencintai?
– Seberapa penting keinginan diri untuk dicintai?
– Kisah Sejati Abadi


E. Mengatasi Writer Block

Sebenarnya writer block bukanlah sesuatu yang harus menghentikan langkah kita, karena pada dasarnya writer block itu sebenarnya terjadi karena kurangnya refrensi atau tabungan diksi yang kita miliki. Maka hal yang perlu kita lakukan adalah banyakin investasi diksi kita dengan banyak membaca dan berdiskusi.

Tapi, jika writer block masih menghampiri kita, maka lakukan beberapa hal berikut ini (ini adalah rahasia saya menghadapi writer block dan berhasil menerbitkan 22 buku dan 5 naskah yang sementara di review oleh penerbit);

1. Berhenti sejenak. Tutup laptop kita dan hentikan aktivitas menulis. Jangan paksakan otak kita untuk meramu kalimat demi kalimat, karena itu hanya akan membuat kita semakin stres dan mengalami kebuntuan berpikir.

2. Mulailah mencari udara segar dengan keluar berjalan-jalan ke toko buku, perpustakaan, atau hal-hal yang membuat kita nyaman, atau sekedar kita berjalan-jalan di ruang tamu sekitar 10-15 menit.

3. Silahkan menonton film motivasi atau inspirasi yang bisa membangkitkan ide dan kreatifitas kita. Saya  sering kali melihat tayangan Kick Andy atau video motivasi di YouTube. Atau bahkan saya sering menonton film yang inspiratif.

4. Silahkan membaca buku. Baca buku yang kita sukai dan sesuai dengan tema tulisan yang sedang kita garap. Langkah ini hampir 100% dipraktikkan oleh penulis-penulis best seller dan mereka berhasil.

Saya juga menerapkan dan alhamdulillah selalu dapat ide dan inspirasi luar biasa untuk kembali melanjutkan tulisan.

5. Diskusi. Mulailah mencari teman-teman inspiratif dan selalu asyik untuk diajak berdiskusi. Saat kita ngobrol dengan mereka selalu ada nilai manfaat yang bisa kita dapatkan.

6. Selanjutnya, silahkan buka kembali laptop dan lanjutkan menulis lagi.


F. Tujuh Teknik Menulis Esai

1. Tentukan topik (tema dan judul esai).
2. Buatlah kerangka tulisan (outline).
3. Mulailah dengan paragraf pembuka yang menarik dan sederhana.
4. Uraikan isi esai dengan menggunakan poin-poin biar lebih rapi dan tersampikan secara jelas dan detail (ini merupakan salah satu metode yang paling sering mendapatkan nilai atau poin tinggi)

Ajak para pembaca berinteraksi dengan memberikan satu atau dua kalimat pertanyaan atau pernyataan.

Berikut kesimpulan yang membuat pembaca menemukan pesan atau poin penting yang kita bahas dalam esai, atau bisa juga membuat pembaca menemukan sendiri kesimpulannya. Lakukan self editing.

Perbedaan Artikel dan Esai
Sebenarnya jika kita lihat dan baca artikel, keduanya mirip-mirip aja. 

Namun, kesimpulan: Pada umumnya, sebuah artikel dimaksudkan untuk memberi informasi kepada pembaca tentang sesuatu, melalui berita, cerita utama, deskripsi produk, laporan, dll. 

Di sisi lain, sebuah esai menawarkan analisis topik tertentu, sambil mencerminkan akun terperinci dari sebuah pandangan seseorang tentang itu.

Halaman Pada Esai
Aturan yang sudah dikenal antara 1000-1500 kata.


Disusun oleh: Muh. Ramli (founder Komunitas Muslim Inspiratif).



Pelatihan dan Pengembangan SDM PPMI Arab Saudi
Kolaborasi – Dedikasi – Inspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *