Peran Penting PPI Dunia dalam Membumikan Budaya Gotong Royong melalui Sosial Media

Oleh Farhan Fadilat Syah – Islamic University of Madinah (juara tiga kategori mahasiswa pada lomba menulis esai yang diselenggarakan oleh PPMI Arab Saudi)

Indonesia sangat kental dengan budaya gotong royong. Budaya gotong royong menjadikan Indonesia unggul dibandingkan bangsa-bangsa lain dari aspek sosial budaya. Bapak pendiri bangsa, Ir. Soekarno pernah mengatakan bahwa negara Indonesia didirikan atas asas gotong royong. Istilah gotong royong mulai dikenal pada masa pendudukan Jepang, yaitu ketika Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pertama kali menggunakan istilah itu. Gotong royong lebih tersebar luas ketika Ir. Soekarno menjadikan gotong royong sebagai nilai khas Indonesia yang harus menjadi jiwa dan mendasari kehidupan bermasyarakat dan bernegara, bahkan Ir. Soekarno menjadikan kabinet pemerintahannya bernama Kabinet Gotong Royong.

Dalam peribahasa disebutkan, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, yang mempunyai filosofi sangat dalam jika kita refleksikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia bisa terbebas dari para penjajah karena para pahlawan saling bergotong royong untuk menumpas para penjajah. Senjata dan perlengkapan yang seadanya bisa mengalahkan pasukan dengan senjata lengkap. Hal itu bisa terjadi karena semua elemen bergotong royong dan bersatu padu untuk mengusir musuh bersama dari bumi pertiwi.

Dr. Agustinus Wisnu, S.S., M.Hum dalam jurnalnya berjudul “Pendidikan Nilai Gotong Royong sebagai Strategi Ketahanan Nasional”, menyebutkan bahwa pendidikan nilai gotong royong mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga ketahanan nasional. Dia menjelaskan bahwa gotong royong bisa ditanamkan melalui nilai-nilai pendidikan kognitif. Pendidikan gotong royong yang terbaik adalah ketika nilai itu bisa terealisasi dalam bentuk etos dan praktik bersama dari sebuah bangsa. Konsep gotong royong dapat merekatkan masyarakat yang ber-bhineka dan plural di Indonesia. Salah satu cara menanamkan nilai gotong royong di masyarakat adalah dengan mencari tokoh yang bisa dijadikan role model. Tokoh itu bisa dijadikan panutan dalam menerapkan nilai gotong royong. Tokoh yang akan sering dilihat, didengar dan dianggap sebagai sosok yang layak ditiru oleh masyarakat. Tokoh panutan itu bisa dalam bentuk profesi, seperti presiden, guru, pemuka agama atau tokoh masyarakat desa.

Merujuk pada data BPS tahun 2010, Indonesia mempunyai sekitar 1.340 suku bangsa. Keragaman budaya dan kemajemukan masyarakat Indonesia menjadi modal dan potensi besar yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa. Akan tetapi sangat disayangkan, akhir-akhir ini masyarakat Indonesia mulai terpecah dan terpolarisasi menjadi kubu-kubu yang saling mementingkan kelompoknya. Karakter asli dari budaya Indonesia sudah mulai pudar bersama dengan dijunjung tingginya kepentingan golongan.

Abdul Gaffar Karim, dosen di Departemen Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada menyebutkan dalam jurnal penelitiannya yang berjudul “Mengelola Polarisasi Politik dalam Sirkulasi Kekuasaan di Indonesia: Catatan bagi Agenda Riset”, bahwa polarisasi dalam politik elektoral di Indonesia sangat banyak ditentukan oleh framing media dan interaksi para aktor dalam media sosial . Bahkan, sejak tahun 2014, Indonesia mengalami polarisasi politik dengan derajat yang sangat mengkhawatirkan. Terutama ketika pemilihan pimpinan eksekutif di tingkat nasional. Hasil pemilihan itu meninggalkan residu politik yang justru semakin menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai gotong royong, bahkan polarisasi yang ada bisa menimbulkan percikan-percikan api perpecahan. Masyarakat hari ini mudah terprovokasi dan terbawa emosi karena hal-hal sepele. Hal-hal fundamental yang seharusnya dikedepankan justru dikalahkan oleh ego sektoral.

Saat ini, diperlukan upaya konkret untuk mengembalikan nilai luhur gotong royong di tengah masyarakat. Perlu aksi nyata untuk merekatkan kembali masyarakat yang mulai pecah. Esai ini membahas dan memberikan ide yang diharapkan bisa menyelesaikan masalah ini. Ide besar dari esai ini adalah “Bagaimana cara untuk menumbuhkan kembali budaya gotong royong di Indonesia?”

Ternyata jawabannya ada pada salah satu organisasi pelajar yang bisa kita manfaatkan kiprah mereka untuk menjadi pelopor budaya gotong royong dan mesin penggerak kemajuan peradaban. Organisasi itu adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia). PPI Dunia merupakan sebuah wadah potensial yang bisa membawa perubahan bagi Indonesia ke arah yang lebih baik. Telah banyak kontribusi yang mereka lakukan untuk mengembangkan Indonesia. Saat ini, 60 PPI Negara sudah bergabung di PPI Dunia, menjadikan PPI Dunia sebagai salah satu wadah terbesar perkumpulan mahasiswa Indonesia secara internasional. Di sana terkumpul manusia-manusia unggul, cerdas dan mempunyai pemikiran cemerlang untuk menyelesaikan krisis multidimensi yang ada saat ini. PPI Dunia mempunyai peran sentral untuk mengkaji, mengedukasi dan merealisasikan hal-hal yang berkaitan dengan berbagai isu sosial, budaya dan kemasyarakatan. Orang-orang yang bergabung di sana mempunyai kapabilitas dan kompetensi untuk membumikan kembali nilai gotong royong di Indonesia.

Bagaimana cara PPI Dunia bisa menjadi pelopor dan mesin penggerak untuk memulihkan nilai gotong royong di masyarakat? Salah satu ide besar yang ditawarkan dalam esai ini adalah dengan memaksimalkan kekuatan dahsyat yang dimiliki media sosial. Media sosial mempunyai dampak yang sangat kuat untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai budaya yang sudah luntur. PPI Dunia bisa menggunakan ‘senjata’ ini untuk merealisasikan visi misi mereka secara umum dan menumbuhkan kembali nilai gotong royong secara khusus.

Media sosial adalah sebuah media online yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan sesuatu. Perlu kita sadari bahwa hari ini kita hidup dalam dunia yang saling terhubung satu sama lain. Rasanya, sangat sulit hari ini untuk tidak menggunakan sosial media. Menurut riset platform media sosial HootSuite dan agensi marketing sosial We Are Social bertajuk “Global Digital Report 2020” pada Januari 2020 menyebutkan bahwa saat ini ada 7,75 miliar manusia yang hidup di bumi. 4,54 Miliar diantara mereka sudah saling terhubung melalui koneksi internet. Pengguna aktif media sosial dari seluruh dunia tercatat sebanyak 3,8 miliar manusia.

Jurnal itu juga menyebutkan bahwa hampir 60% masyarakat dunia menggunakan internet dengan rata-rata durasi penggunaan 6 jam 23 menit. Bisa dikatakan bahwa pengguna internet menghabiskan hidup mereka lebih dari 100 hari dalam setahun untuk hidup dalam dunia digital.

Lebih mengerucut, kita coba telaah data pengguna sosial media di Indonesia. Data yang dirilis We Are Social pada akhir Januari 2020 mencatat bahwa ada 272 juta penduduk di Indonesia. Pengguna internet tercatat sebanyak 175,4 juta dengan pengguna aktif media sosial sebanyak 160 juta. Dari data itu, bisa kita simpulkan bahwa 64% masyarakat Indonesia telah saling berhubung melalui sosial media

Mari kita lihat lebih spesifik lagi penyebaran 160 juta pengguna aktif media sosial itu. Ternyata riset terbaru yang dirilis oleh NapoleonCat menerangkan secara rinci tentang demografi pengguna media sosial di Indonesia pada Agustus 2020. Platform media sosial yang paling populer digunakan di Indonesia adalah Facebook. Dari data itu diketahui bahwasanya pengguna Facebook di Indonesia menyentuh angka 166,5 juta dan Instagram sebanyak 77,1 juta. Data itu juga menerangkan pengguna berusia 25-34 tahun pada platform Facebook berada di urutan paling tinggi dengan jumlah mencapai 59 juta pengguna sedangkan di Instagram kelompok terbesar ada pada rentang usia 18-24 tahun dengan jumlah pengguna 28 juta.

Dari data di atas, kita bisa simpulkan bahwa masyarakat Indonesia sangat erat dengan media sosial. Kehidupan mereka banyak habis di balik layar. Bahkan Indonesia menduduki peringkat delapan dalam 10 besar negara yang kecanduan internet. Rata-rata penggunaan media sosial di Indonesia mencapai 3 jam 26 menit per hari. Angka itu juga di atas rata-rata masyarakat global yang hanya menghabiskan waktu 2 jam 24 menit per hari. 

Momentum ini bisa kita manfaatkan untuk memberikan warna dan perubahan. Utamanya untuk menghidupkan lagi nilai gotong royong. Para anggota PPI Dunia bisa bergerak secara masif dan terstruktur untuk melakukan brainwash sebagai upaya pembentukan ulang tata berpikir dan perilaku masyarakat Indonesia. Mereka yang menempuh pendidikan di berbagai negara bisa saling terhubung dan berkolaborasi tanpa perlu terikat waktu dan tempat. Hanya dengan sentuhan jari dan hitungan detik, dampak dan gagasan-gagasan besar bisa tersebar ke seluruh dunia. Kesempatan ini bisa menjadi momentum perubahan jika dimanfaatkan oleh orang-orang baik dan dikelola secara profesional dan terstruktur. 

PPI Dunia bisa lebih aktif dalam menyuarakan, mengedukasi dan melakukan aksi nyata melalui platform digital ini. Mereka bisa meluaskan makna gotong royong dan menariknya ke dalam ranah digital. Kekuatan media sosial juga bisa menjadi wadah promosi budaya yang paling efektif, efisien dan bisa dilakukan oleh siapa pun. Jangkauannya luas dan bisa meliputi berbagai latar belakang dan usia. 

Dewan Presidium PPI Dunia bisa melakukan simposium internasional untuk secara khusus membahas peran penting media sosial dalam menumbuhkan kembali nilai-nilai budaya yang sudah mulai luntur. Perlu perencanaan strategis untuk mengubah dan menghasilkan program jangka panjang ini. Mereka perlu memikirkan langkah-langkah praktis agar polarisasi di masyarakat tidak meluas dan bisa menumbuhkan kembali nilai gotong royong. Salah satu poin kerja yang bisa disusun dan direncanakan adalah bagaimana memberikan kesadaran kepada seluruh anggota PPI Dunia untuk bisa aktif menyuarakan, mengedukasi dan memberikan contoh kepada rakyat Indonesia tentang budaya gotong royong melalui media sosial milik mereka. Mereka bisa membuat semacam guideline untuk para anggota sehingga target-target lebih terarah dan terukur.

PPI Dunia adalah salah satu garda terdepan dalam mempromosikan budaya Indonesia. Mereka bisa mengenalkan kepada masyarakat dunia bahwasanya Indonesia adalah negara yang baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Sebagai contoh, para pelajar yang berada di luar negeri sebenarnya bisa bergotong royong menjadikan media sosial mereka sebagai alat branding country. Branding bukan hanya untuk sebuah produk yang dipasarkan, wilayah sekelas negara pun butuh dengan brand yang biasa disebut nation brand.  Para pelajar bisa bekerja sama dan berperan aktif untuk mempromosikan Indonesia sehingga bisa menimbulkan persepsi positif masyarakat dalam negeri dan masyarakat dunia mengenai Indonesia. Sehingga pada akhirnya citra Indonesia di mata dunia menjadi baik dan hal itu berkorelasi positif pada meningkatnya ekonomi Indonesia, khususnya pada bidang perdagangan, pariwisata dan investasi. 

Contoh lain dari kekuatan media sosial yang bisa dimanfaatkan oleh PPI Dunia adalah dengan bergotong royong dalam membantu masyarakat Indonesia yang membutuhkan atau terkena musibah. Penggalangan dana dalam jumlah besar bisa dikumpulkan dari berbagai negara untuk menolong saudara-saudara kita yang membutuhkan di tanah air. Mereka bisa merangkul banyak pihak untuk ikut menyuarakan dan berpartisipasi dalam program kebaikan ini. Sebagai contoh, PPI Dunia pernah melakukan program Bantu Guru Melihat Dunia (BGMD) yang digerakkan oleh Komisi Pendidikan. Mereka juga pernah bekerja sama dengan Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) dalam melakukan gerakan penggalangan dana untuk peralatan medis di rumah sakit. Kegiatan-kegiatan semacam ini perlu mendapatkan perhatian lebih dan bisa dilakukan dalam skala yang lebih besar dengan memanfaatkan kekuatan media sosial. Sehingga pada akhirnya PPI Dunia bisa berdampak dan memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia. Nilai gotong royong secara bertahap akan mulai tumbuh dan berkembang kembali melalui cara ini.

Hal lain yang bisa dimanfaatkan oleh PPI Dunia untuk memupuk rasa gotong royong melalu media sosial adalah dengan melakukan edukasi masyarakat secara langsung. Mereka memiliki ruang lingkup yang cukup luas, meliputi kawasan Amerika, Eropa, Asia, Oseania, Afrika dan Timur Tengah. Masing-masing wilayah bisa membuat program kerja yang bertujuan untuk mengedukasi dan menanamkan nilai gotong royong di masyarakat. Jika semua elemen bersatu untuk mengembalikan budaya gotong royong ini, maka Indonesia akan bisa bangkit menuju peradaban yang lebih maju. Karena fondasi bangsa yang kuat berada pada masyarakatnya yang kuat. Dan salah satu cara menumbuhkan masyarakat yang kuat adalah dengan menanamkan nilai gotong royong pada mereka.

Kesimpulan dari esai ini adalah pentingnya budaya gotong royong yang merupakan identitas dan jati diri Indonesia. Gotong royong adalah senjata ampuh yang telah teruji sejak dulu untuk mengusir para penjajah dan menjaga ketahanan negara Indonesia. Akan tetapi akhir-akhir ini budaya gotong royong semakin terkikis karena adanya polarisasi di masyarakat. Polarisasi kian menguat ketika masyarakat saling mengedepankan kepentingan kelompok mereka, terutama saat pemilihan pemimpin eksekutif. Dibutuhkan aksi nyata untuk mengatasi masalah yang jika dibiarkan bisa menjadi bom waktu ini. 

PPI Dunia mempunyai peran penting dalam menyelesaikan masalah ini. Mereka merupakan wadah berkumpulnya orang-orang cerdas, berkompeten dan berkapasitas untuk menyelesaikan banyak krisis di negeri ini. Mereka mampu mengkaji, mengedukasi dan menyelesaikan hal-hal yang bisa menumbuhkan kembali budaya gotong royong di Indonesia. PPI Dunia bisa menggunakan kekuatan luar biasa dari media sosial. Media sosial saat ini sudah menjadi darah daging seseorang. Lebih dari 3,4 miliar manusia telah menggunakan media sosial, bahkan di Indonesia 64% warganya telah tercatat sebagai pengguna aktif media sosial. Ini adalah kesempatan emas yang harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Momentum perubahan bisa dilakukan melalui gerakan masif dan terstruktur di media sosial. PPI Dunia bisa membahas ini secara serius dan matang melalui simposium internasional. 

Salah satu tindakan realnya adalah anggota PPI Dunia melakukan nation branding di media sosial milik mereka. Hal itu secara otomatis akan membantu meningkatkan citra dan ekonomi Indonesia. Hal lain yang bisa mereka lakukan dengan media sosial adalah dengan melakukan penggalangan dana secara besar untuk membantu warga Indonesia yang sedang terkena bencana atau kesulitan. Dengan demikian Indonesia bisa kembali menjadi negara tangguh, berbudaya dan bisa saling bergotong royong tanpa perlu terpecah belah. (MAM)



Sosial, Budaya, dan Olahraga PPMI Arab Saudi
Kolaborasi – Dedikasi – Inspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *